RSS

Mengajar dan Mendidik..

23 Feb

Hidup laksana berlayar di Lautan luas, begitu juga kala belajar,, sedangkan mengajar ibarat mengendalikan kapalnya…

Tidak semestinya mengajar dan mendidik berjalan pada satu waktu dan ruang. Mengajar bisa saja beriringan dengan mendidik pada ruang yang berbeda dan subjek pelaku yang berbeda.

Ketika mendengar kata “mengajar dan mendidik” kita langsung saja terpikir dengan sosok yang bernama guru. Ntah kenapa guru memiliki tanggung jawab besar dan sangat berat terhadap tuntutan pekerjaannya itu. Guru tugas utamanya adalah menyampaikan ilmu pengetahuan kepada siswanya sehingga siswa yang tidak tahu menjadi tahu tentang hal pengetahuan tersebut. Maka terlalu berat jika guru juga harus mendidik mereka. Bukan karena guru ingin lepas tanggung jawab, tapi itulah kenyataannya, sosok guru bukanlah sosok yang sempurna dari setiap sisinya. Pasti ada kekurangan-kekurangan di dalamnya.

Kalau saja guru mendapat tuntutan yang demikian beratnya, nah dimanakah peran orang tua? Apakah peran orang tua hanya melahirkan anak, membesarkan, dan mencari nafkah, serta menikahkannya jika sudah dewasa? Benar, menjadi orang tua juga sangat-sangatlah berat, namun meski berat tapi yang diasuhnya adalah darah dagingnya yang sudah harus dan wajib untuk dipenuhi. Nah kalau guru yang diajarnya bukan anaknya, sehingga timbullah akibat-akibat yang merugikan semua pihak.

Wahai orang tua, didiklah anakmu, jangan terlalu berharap pada orang lain untuk mendidiknya. Karena guru juga manusia yang sama sepertimu yang memikirkan penghidupan yang layak bagi keluarganya, dan guru juga mesti melalukan perjuangan besar mentransferkan ilmu pengetahuan pada ratusan anak yang BUKAN anaknya. Sedangkan orang tua hanya mengejar harta yang memang pada akhirnya digunakan untuk kebutuhan anak-anaknya. Tapi tahukah wahai ayah dan ibu, guru berjuang berat bagaimana supaya anak-anak kalian pintar dan cerdas, tapi ternyata hasilnya selalu jauh dari harapan apalagi dari puncak kepuasan. Siapa yang salah?

Kalau memperkarakan siapa yang salah, dan siapa yang bertanggung jawab, maka cerita itu takkan ada habisnya. Hal yang terbaik yang harus kita lakukan adalah mencari solusi yang jitu untuk menyelesaikan masalah yang menyangkut masa depan orang banyak serta masa depan bangsa, karena masa depan masa juga tergantung pada generasi tunas-tunas bangsa sekarang ini. Bagaimana bangsa ini akan baik jika tunasnya saja tidak baik?

Ali r.a pernah berkata : “ Siapa yang lalai mendidik putra-putrinya maka kelak akan menyesal dunia akhirat” maka petuah ini sangat menekankan kepada orang tua bahwa selain mencari nafkah buat anak, orang tua seharusnya mendidik mereka dirumah dengan pendidikan yang baik, yang akan menghasilkan akidah dan akhlaq anak yang baik. Nah selanjutnya tugas guru menjadikan si anak menjadi anak yang mengenal ilmu pengetahuan.

Kita akan membahas hal-hal penting tentang memahami peran guru sehingga orang tua tak semata-mata memandang sebelah mata akan tugas guru :

1. Perbandingan guru dan siswa

Pihak dinas yang terkait dalam dunia pendidikan telah membatasi jumlah siswa pada 1 kelas, idealnya berjumlah 32 orang, tetapi tetap saja tidak ideal. Apalagi pada kenyataannya banyak yang melebihi batas, kadang hingga 35-40 siswa perkelas. Sungguh tidak menyamankan bagi guru untuk mengontrol kelas dengan perbandingan 1:32.

Bagaimana tidak, orang tua saja yang memiliki 3 anak dirumahnya sudah kewalahan menghadapi 3 tingkah laku dan perangai yang tidak sama. Nah bagaimana dengan guru? 1 kelas saja ada 32 lebih anak, hitung saja jika guru masuk 10 kelas? Maka sekitar 300-an lebih anak yang harus ia cerna pola tingkah lakunya. Karena setiap anak mempunyai kemampuan dan karakter yang berbeda-beda. Ada yang peribut, ada yang suka main hp, ada yang suka cerita, ada yang tidur, ada yang melamun, ada yang sungguh-sungguh, bolos, berkelahi, melawan, suka mencari kemarahan guru, malas belajar, tidak mau memperhatikan, bingung, cuek, .. wah kalau semua harus dipaparkan maka tidak akan cukup halaman ini. Seideal-idealnya guru, dalam-luar logika perbandingan tersebut tidak akan bisa mencapai hasil yang sempurna.

2. Jam belajar yang terbatas

Dalam sekali masuk guru maksimal masuk kedalam kelas 3 jam pelajaran sekitar 135 menit atau 2 jam 15 menit. Tetapi tidak semua guru sekali masuk 3 jam, tergantung pembagian jam kerjanya. Merapikan kelas, menertibkan dan mengabsen anak saja bisa habis 30 menit, belum menjelaskan, memberikan contoh soal, dan yang lain-lain. Bagaimana guru bisa sekaligus mengajar dan mendidik disana? Dengan kapasitas siswa yang ramai, dan harus menyelaraskan tujuan pencapaian materi ajar? Maka mendidik tidak akan bisa terlaksana, syukur-syukur guru masih sempat memberikan pembelajaran. Belum lagi pada saat guru menjelaskan ada-ada saja yang membuat keributan, maka proses belajarpun terhambat. Maka jangan kaget jika ada guru yang naik spaning, karena manusia ketika terganggu konsentrasinya akan berada pada keadaan kurang stabil. Sehingga munculnya guru yang marah-marah, bahkan sampai terjadi “bahasa tangan”. Mau tidak mau, kadang hal itu tidak bisa dihindarkan. Maka wahai ayah dan ibu, jika kalian tidak suka anak kalian “disentil” guru, maka didiklah mereka tentang cara menghormati dan menghargai orang lain terutama pada guru. Tanamkan pada mereka untuk apa mereka sebenarnya ke sekolah apakah hanya sekedar sekolah atau untuk belajar.

3. Guru juga punya tuntutan pribadi

Ayah dan ibu, sama sepertimu mereka juga punya tanggungan dalam keluarganya. Guru bukan makhluk sempurna, bukan manusia ideal, karena tidak ada yang ideal di muka bumi ini meskipun ia seorang yang idealis. Maka tak layak kita melimpahkan sepenuhnya masalah anak kepadanya. Orang tua mendidik anak agar sikapnya dan tingkah laku nya beradab dan baik, guru mengajarnya ilmu agar anak mahir dibidang pengetahuan yang mengglobal. Kerjasamalah wahai orang tua, karena ketika anak-anakmu sukses maka sedikit banyaknya kalian akan merasakannya. Tapi kalau guru, mereka hanya akan merekahkan senyuman, dan menjadikan kekuatan bagi dirinya untuk terus berkiprah mencerdaskan bangsa. Meski digaji, guru bukanlah budak materi, yang didapatnya sebenarnya jauh dari seimbang dari beratnya tugas yang ia penuhi. Tapi guru yakin ilmu lebih berharga daripada sekedar materi.

4. Tugas guru diluar jam belajar

Jangan tutup mata wahai ayah dan ibu, selain mengajar di kelas, guru punya seabrek tugas yang kian menumpuk di meja kerjanya. Menyiapkan perangkat pembelajaran, menyelesaikan nilai, mengoreksi, menyelesaikan administrasi kurikulum, tugas kelompok guru, membuat soal, bayangkan kalau guru memegang lebih dari satu matapelajaran yang ia pegang. Sungguh waktu 24 jam dalam sehari tidak cukup untuk menyelesaikan tugas mereka, jika mau ideal.

Jadi demi masa depan putra-putrimu, jangan berangan-angan ia akan dididik orang lain kecuali olehmu para orang tua. Karena sebaik-baik pendidika adalah didikan rumah sendiri.

5. Peraturan yang memberatkan

Guru diberatkan dengan pikiran dan pekerjaan, terlampau banyak peraturan yang kian memberatkannya. Dari peraturan profesi, hingga pembatasan gerak guru. Administrasi yang tidak penting dijadikan penting, contohnya saja jika sekolah tersebut bertaraf dan sudah terakreditasi, maka guru dituntut menyiapkan berbagai macam perangkat-perangkat, pedoman-pedoman padahal pada nyatanya tidak dipakai oleh guru tersebut. Mengajar dan menghadapi anak-anak yang sangat ramai sudah menyita tenaga dan pikiran, kenapa ditambah lagi dengan prosedur-prosedur yang melelahkan. Ini juga koreksi terhadap dinas yang terkait. Tugas dinas apa? Hanya sekedar mengoreksi guru? Bisakah anda duduk di jabatan anda tanpa peran guru? Mudahkan guru, jangan mempersulit. Seharusnya kalian yang merumuskan pedoman, dan guru tinggal siap melaksanakan. Ternyata tidak, guru disuruh merencanakan, merancang, menilai, membuat, dan melaksanakan, nah dinas Cuma mengawasi.

Nasib apa yang menimpamu guru? Penderitaan yang tiada habisnya, belum tuntutan masyarakat dan bangsa yang terlalu besar terhadap guru atas tunas-tunas bangsa yang kini sudah banyak yang nyeleneh, tidak percaya? Lihat saja banyak kasus siswa remaja urak-urakan, ugal-ugalan, tiada harga diri, siswa remaja yang putus sekolah memilih mengeksploitasi tubuh, suara dan lain-lainnya.

Ini TUGAS BERSAMA… tidak hanya guru, tapi semua orang tua, masyarakat, pemerintah, bangsa dan Negara.

Maka tidak ada SOLUSI SEMPURNA selain kembali pada SOLUSI AGAMA karna agamalah yang akan membuat keadaan TIDAK KACAU ( A = Tidak, GAMA = kacau). Pemahaman agama yang baik dan benar akan menghantarkan kehidupan pada pencapaian yang baik, sejahtera, tertib, dan berperadaban yang tinggi.

Wallahu a’lam fi kulli haalin…

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 23, 2011 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: