RSS

Ibadah dan muamalah sama pentingnya

Dari Abu Hurairah berkata, salah seorang berkata, “ wahai Rasulullah saw, bahwasanya fulanah memperbanyak ibadah sholat, sedekah, dan puasa hanya saja ia selalu menyakiti tetanggganya (orang lain) dengan lisannya. “ lalu Rasulullah bersabda “ tidak ada kebaikan padanya, dia termasuk penghuni neraka”
(HR. Bukhori)
Begitulah islam, ajarannya konfrehensip. aturannya meliputi semua aspek kehidupan.
islam tidak menomorduakan muamalah dan menomorsatukan ibadah. keduanya sama pentingnya. sehingga ibadah saja yang kita lakukan tanpa memperbaiki muamalah kita pada orang lain, sungguh tak ada nilainya, bahkan kita akan menjadi penghuni neraka.

begitu sebaliknya juga, terlanjur menjadi orang yang baik terhadap semua namun tak beribadah sama sekali tiada artinya, karna kebaikan tanpa landasan iman sama dengan nihil.
kita hidup pasti punya tujuan akhir. itupun kembali pada diri kita masing-masing, apakah kita tau kemudian apakah kita peduli terhadap tujuan kita. kalau hanya tau saja tetapi tidak peduli bahkan kerap mengabaikan, maka hidup kita hanyalah sebuah kesia-siaan belaka. wallahu ‘alam bi showab

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 22, 2013 in Uncategorized

 

Contoh RPP Bernuansa Karakter Pola EEK SMA

Contoh RPP Bernuansa Karakter Pola EEK SMA
RENCANA PELAKSAAN PEMBELAJARAN
( RPP )
Nama Sekolah : …………………………………..
Mata Pelajaran : Sejarah Nasional
Kelas/semester : X/I
Standar kompetensi : 1. Memahami prinsip dasar ilmu sejarah
Kompetensi Dasar : 1.1 Menjelaskan pengertian dan ruang lingkup ilmu sejarah
Alokasi waktu : 2 x 45 menit (1 x pertemuan)
A. Tujuan Pembelajaran
Setelah selesai proses pembelajaran, diharapkan siswa dapat:
1. menunjukkan sikap positif terhadap ilmu sejarah
2. menunjukkan sikap positif terhadap pentingnya mempelajari sejarah
Karakter siswa yang diharapkan : Dapat menghargai sejarah,
B. Materi Pembelajaran
1. Pengertian sejarah dan kegunaan sejarah
2. Pengertian sumber, bukti, dan fakta sejarah.
C. Metode
Ceramah bervariasi dan penugasan.
D. Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran (Strategi Pembelajaran/Kegiatan Belajar)
1. Pertemuan I
Pendahuluan
a. Apersepsi
Mempersiapkan kelas dalam pembelajaran (absensi, kebersihan kelas, dan lain-lain)
b. Memotivasi
Melakukan penjajakan kesiapan belajar siswa dengan memberikan pertanyaan tentang materi yang akan diajarkan.
c. Memberikan informasi tentang kompetensi yang akan dicapai.
Kegiatan Inti
1). Eksplorasi
• Guru menjelaskan kembali secara singkat tentang perjuangan yang dilakukan para pahlawan untuk mencapai kemerdekaan. Sehingga muncullah pengertian sejarah.
2). Elaborasi
• Guru memberikan tugas individual kepada siswa untuk membuat karangan dengan tema makna proklamasi bagi kehidupan masyarakat.
• Beberapa siswa diberi kesempatan untuk membacakan karangannya, siswa lain menanggapi.
3) Konfirmasi
• Guru memberikan klarifikasi.
• Guru meminta beberapa siswa untuk memberikan penilaian terhadap makna kemerdekaan yang dirasakannya.
Penutup
Bersama siswa, guru menyimpulkan materi pembelajaran yang telah dilakukan.
2. Pertemuan II
Pendahuluan
a. Apersepsi
Mempersiapkan kelas dalam pembelajaran (absensi, kebersihan kelas, dan lain-lain)
b. Memotivasi
Melakukan penjajakan kesiapan belajar siswa dengan memberikan pertanyaan tentang materi yang telah diajarkan.
c. Memberikan informasi tentang kompetensi yang akan dicapai.
Kegiatan Inti
1). Eksplorasi
• Guru menjelaskan kembali secara singkat tentang nilai-nilai ‘45 dan hubungannya dengan kehidupan masa kini.
2). Elaborasi
• Guru membagi siswa dalam 8 kelompok.
• Tiap kelompok mendiskusikan pentingnya pewarisan nilai-nilai ‘45 dalam mengisi kemerdekaan.
• Beberapa kelompok mempresentasikan hasil diskusi.
• Kelompok lain menanggapi.
3) Konfirmasi
• Guru memberikan klarifikasi
Penutup
1. Bersama siswa, guru menyimpulkan materi pembelajaran.
2. Siswa mengisi kuesioner: check list (V)
E. Sumber Pembelajaran
• Buku teks Sejarah SMA
• UUD 1945
• Buku-buku litelatur yang berisi tentang Sejarah
• Artikel-artikel,
F. Penilaian
Penilaian dilaksanakan selama proses dan sesudah pembelajaran
Indikator pencapaian Teknik penilaian Bentuk Instrumen Instrumen
- Menjelaskan pengertian sejarah.
- Menjelaskan kegunaan sejarah sebagai edukatif.
- Menjelaskan kegunaan sejarah sebagai rekreatif.
• Penilaian diri
Penilaian antar teman
Quesioner
Lembar penilaian antar teman
Petunjuk!
Berilah tanda cek (V) pada kolom yang sesuai dengan pendapat kalian!
NO PERNYA-TAAN YA TDK
1 Kita perlu mempelajari sejarah
2 Di negara yang merdeka setiap warga negara bebas melakukan apa saja
3 Belajar sejarah tidak harus disekolah
3 Sejarah berguna untuk mengenang pahlawan
4 Sejarah adalah cerita yang dibuat-buat
Keterangan:
Ya= sependapat dengan pernyataan ( skor 1, jika pernyataan positif, dan skor 0 jika pernyataan negatif)
Tdk=tidak sependapat dengan pernyataan ( skor 0, jika pernyataan positif dan skor 1 jika pernyataan negatif)
Penialain perilaku melalui pengamatan ( Instrumen terlampir ).
Mengetahui,
Kepala Sekolah
(__________________________)
NIP/NIK : ………………………… …..,………………… 20 …….
Guru Mapel
(_______________________)
NIP/NIK : …………………………

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 14, 2011 in Uncategorized

 

Mengajar dan Mendidik..

Hidup laksana berlayar di Lautan luas, begitu juga kala belajar,, sedangkan mengajar ibarat mengendalikan kapalnya…

Tidak semestinya mengajar dan mendidik berjalan pada satu waktu dan ruang. Mengajar bisa saja beriringan dengan mendidik pada ruang yang berbeda dan subjek pelaku yang berbeda.

Ketika mendengar kata “mengajar dan mendidik” kita langsung saja terpikir dengan sosok yang bernama guru. Ntah kenapa guru memiliki tanggung jawab besar dan sangat berat terhadap tuntutan pekerjaannya itu. Guru tugas utamanya adalah menyampaikan ilmu pengetahuan kepada siswanya sehingga siswa yang tidak tahu menjadi tahu tentang hal pengetahuan tersebut. Maka terlalu berat jika guru juga harus mendidik mereka. Bukan karena guru ingin lepas tanggung jawab, tapi itulah kenyataannya, sosok guru bukanlah sosok yang sempurna dari setiap sisinya. Pasti ada kekurangan-kekurangan di dalamnya.

Kalau saja guru mendapat tuntutan yang demikian beratnya, nah dimanakah peran orang tua? Apakah peran orang tua hanya melahirkan anak, membesarkan, dan mencari nafkah, serta menikahkannya jika sudah dewasa? Benar, menjadi orang tua juga sangat-sangatlah berat, namun meski berat tapi yang diasuhnya adalah darah dagingnya yang sudah harus dan wajib untuk dipenuhi. Nah kalau guru yang diajarnya bukan anaknya, sehingga timbullah akibat-akibat yang merugikan semua pihak.

Wahai orang tua, didiklah anakmu, jangan terlalu berharap pada orang lain untuk mendidiknya. Karena guru juga manusia yang sama sepertimu yang memikirkan penghidupan yang layak bagi keluarganya, dan guru juga mesti melalukan perjuangan besar mentransferkan ilmu pengetahuan pada ratusan anak yang BUKAN anaknya. Sedangkan orang tua hanya mengejar harta yang memang pada akhirnya digunakan untuk kebutuhan anak-anaknya. Tapi tahukah wahai ayah dan ibu, guru berjuang berat bagaimana supaya anak-anak kalian pintar dan cerdas, tapi ternyata hasilnya selalu jauh dari harapan apalagi dari puncak kepuasan. Siapa yang salah?

Kalau memperkarakan siapa yang salah, dan siapa yang bertanggung jawab, maka cerita itu takkan ada habisnya. Hal yang terbaik yang harus kita lakukan adalah mencari solusi yang jitu untuk menyelesaikan masalah yang menyangkut masa depan orang banyak serta masa depan bangsa, karena masa depan masa juga tergantung pada generasi tunas-tunas bangsa sekarang ini. Bagaimana bangsa ini akan baik jika tunasnya saja tidak baik?

Ali r.a pernah berkata : “ Siapa yang lalai mendidik putra-putrinya maka kelak akan menyesal dunia akhirat” maka petuah ini sangat menekankan kepada orang tua bahwa selain mencari nafkah buat anak, orang tua seharusnya mendidik mereka dirumah dengan pendidikan yang baik, yang akan menghasilkan akidah dan akhlaq anak yang baik. Nah selanjutnya tugas guru menjadikan si anak menjadi anak yang mengenal ilmu pengetahuan.

Kita akan membahas hal-hal penting tentang memahami peran guru sehingga orang tua tak semata-mata memandang sebelah mata akan tugas guru :

1. Perbandingan guru dan siswa

Pihak dinas yang terkait dalam dunia pendidikan telah membatasi jumlah siswa pada 1 kelas, idealnya berjumlah 32 orang, tetapi tetap saja tidak ideal. Apalagi pada kenyataannya banyak yang melebihi batas, kadang hingga 35-40 siswa perkelas. Sungguh tidak menyamankan bagi guru untuk mengontrol kelas dengan perbandingan 1:32.

Bagaimana tidak, orang tua saja yang memiliki 3 anak dirumahnya sudah kewalahan menghadapi 3 tingkah laku dan perangai yang tidak sama. Nah bagaimana dengan guru? 1 kelas saja ada 32 lebih anak, hitung saja jika guru masuk 10 kelas? Maka sekitar 300-an lebih anak yang harus ia cerna pola tingkah lakunya. Karena setiap anak mempunyai kemampuan dan karakter yang berbeda-beda. Ada yang peribut, ada yang suka main hp, ada yang suka cerita, ada yang tidur, ada yang melamun, ada yang sungguh-sungguh, bolos, berkelahi, melawan, suka mencari kemarahan guru, malas belajar, tidak mau memperhatikan, bingung, cuek, .. wah kalau semua harus dipaparkan maka tidak akan cukup halaman ini. Seideal-idealnya guru, dalam-luar logika perbandingan tersebut tidak akan bisa mencapai hasil yang sempurna.

2. Jam belajar yang terbatas

Dalam sekali masuk guru maksimal masuk kedalam kelas 3 jam pelajaran sekitar 135 menit atau 2 jam 15 menit. Tetapi tidak semua guru sekali masuk 3 jam, tergantung pembagian jam kerjanya. Merapikan kelas, menertibkan dan mengabsen anak saja bisa habis 30 menit, belum menjelaskan, memberikan contoh soal, dan yang lain-lain. Bagaimana guru bisa sekaligus mengajar dan mendidik disana? Dengan kapasitas siswa yang ramai, dan harus menyelaraskan tujuan pencapaian materi ajar? Maka mendidik tidak akan bisa terlaksana, syukur-syukur guru masih sempat memberikan pembelajaran. Belum lagi pada saat guru menjelaskan ada-ada saja yang membuat keributan, maka proses belajarpun terhambat. Maka jangan kaget jika ada guru yang naik spaning, karena manusia ketika terganggu konsentrasinya akan berada pada keadaan kurang stabil. Sehingga munculnya guru yang marah-marah, bahkan sampai terjadi “bahasa tangan”. Mau tidak mau, kadang hal itu tidak bisa dihindarkan. Maka wahai ayah dan ibu, jika kalian tidak suka anak kalian “disentil” guru, maka didiklah mereka tentang cara menghormati dan menghargai orang lain terutama pada guru. Tanamkan pada mereka untuk apa mereka sebenarnya ke sekolah apakah hanya sekedar sekolah atau untuk belajar.

3. Guru juga punya tuntutan pribadi

Ayah dan ibu, sama sepertimu mereka juga punya tanggungan dalam keluarganya. Guru bukan makhluk sempurna, bukan manusia ideal, karena tidak ada yang ideal di muka bumi ini meskipun ia seorang yang idealis. Maka tak layak kita melimpahkan sepenuhnya masalah anak kepadanya. Orang tua mendidik anak agar sikapnya dan tingkah laku nya beradab dan baik, guru mengajarnya ilmu agar anak mahir dibidang pengetahuan yang mengglobal. Kerjasamalah wahai orang tua, karena ketika anak-anakmu sukses maka sedikit banyaknya kalian akan merasakannya. Tapi kalau guru, mereka hanya akan merekahkan senyuman, dan menjadikan kekuatan bagi dirinya untuk terus berkiprah mencerdaskan bangsa. Meski digaji, guru bukanlah budak materi, yang didapatnya sebenarnya jauh dari seimbang dari beratnya tugas yang ia penuhi. Tapi guru yakin ilmu lebih berharga daripada sekedar materi.

4. Tugas guru diluar jam belajar

Jangan tutup mata wahai ayah dan ibu, selain mengajar di kelas, guru punya seabrek tugas yang kian menumpuk di meja kerjanya. Menyiapkan perangkat pembelajaran, menyelesaikan nilai, mengoreksi, menyelesaikan administrasi kurikulum, tugas kelompok guru, membuat soal, bayangkan kalau guru memegang lebih dari satu matapelajaran yang ia pegang. Sungguh waktu 24 jam dalam sehari tidak cukup untuk menyelesaikan tugas mereka, jika mau ideal.

Jadi demi masa depan putra-putrimu, jangan berangan-angan ia akan dididik orang lain kecuali olehmu para orang tua. Karena sebaik-baik pendidika adalah didikan rumah sendiri.

5. Peraturan yang memberatkan

Guru diberatkan dengan pikiran dan pekerjaan, terlampau banyak peraturan yang kian memberatkannya. Dari peraturan profesi, hingga pembatasan gerak guru. Administrasi yang tidak penting dijadikan penting, contohnya saja jika sekolah tersebut bertaraf dan sudah terakreditasi, maka guru dituntut menyiapkan berbagai macam perangkat-perangkat, pedoman-pedoman padahal pada nyatanya tidak dipakai oleh guru tersebut. Mengajar dan menghadapi anak-anak yang sangat ramai sudah menyita tenaga dan pikiran, kenapa ditambah lagi dengan prosedur-prosedur yang melelahkan. Ini juga koreksi terhadap dinas yang terkait. Tugas dinas apa? Hanya sekedar mengoreksi guru? Bisakah anda duduk di jabatan anda tanpa peran guru? Mudahkan guru, jangan mempersulit. Seharusnya kalian yang merumuskan pedoman, dan guru tinggal siap melaksanakan. Ternyata tidak, guru disuruh merencanakan, merancang, menilai, membuat, dan melaksanakan, nah dinas Cuma mengawasi.

Nasib apa yang menimpamu guru? Penderitaan yang tiada habisnya, belum tuntutan masyarakat dan bangsa yang terlalu besar terhadap guru atas tunas-tunas bangsa yang kini sudah banyak yang nyeleneh, tidak percaya? Lihat saja banyak kasus siswa remaja urak-urakan, ugal-ugalan, tiada harga diri, siswa remaja yang putus sekolah memilih mengeksploitasi tubuh, suara dan lain-lainnya.

Ini TUGAS BERSAMA… tidak hanya guru, tapi semua orang tua, masyarakat, pemerintah, bangsa dan Negara.

Maka tidak ada SOLUSI SEMPURNA selain kembali pada SOLUSI AGAMA karna agamalah yang akan membuat keadaan TIDAK KACAU ( A = Tidak, GAMA = kacau). Pemahaman agama yang baik dan benar akan menghantarkan kehidupan pada pencapaian yang baik, sejahtera, tertib, dan berperadaban yang tinggi.

Wallahu a’lam fi kulli haalin…

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 23, 2011 in Uncategorized

 

Menjadi muslim itu mudah jendral,, tapi menjadi Mu’min belum tentu…

Muslim itu adalah orang yang beragama islam, orang yang sudah mengucapkan dua kalimat syahadat, meskipun dia tak pernah tau hakikat dari apa yang ia ucapkan. Islam terdaftar dalam identitas diri, sudah cukup membuktikan bahwa ia seorang muslim/ah.

Menjadi muslim cukup tau bahwa ada syariat yang mengatur kehidupan, meskipun tidak diamalkan. Menjadi muslim cukup tahu bahwa Allah tuhannya, Muhammad nabinya, cukup mengerjakan sholat wajib lima waktu, cukup puasa di bulan ramadhan, kalau mampu naik haji.

Muslim hari ini jumlahnya banyak sekali hampir sepertiga popolasi  makhluk di dunia, biarpun hanya sekedar muslim KTP saja. Warna-warni muslim hari ini juga sangat beragam. Berislam tapi tidak mengaplikasikan islam, mampu member fatwa tapi tak mampu mengerjakan, mampu berdebat tapi kalah implementasi, pembaca Al-qur’an tapi lalai menghayati dalam kehidupan.

Wahai teman, menjadi muslim/ah sangat mudah, tapi tidak menjadi Mu’min. mu’min adalah orang yang ber-IMAN. Maka apa defenisi iman?

Iman adalah meyakini dalam qolbu, mengakui dengan lisan, melakukan dengan amal perbuatan, maka konsekwensinya berat, tidak bisa pincang salah satunya. Kalau sekedar meyakini Allah adalah Ilah kita dalam hati, dan mengakui dengan lisan namun tidak tampak dari amal kita maka itu tidak bisa disebut dengan iman. Banyak yang mengaku Allah sebagai Tuhan, tiada tuhan selain Allah tapi masih mengandalkan hal-hal lain untuk menolongnya, masih banyak praktik syirik, masih banyak yang mengesampingkan pengakuan itu. Kalaulah Allah diatas segala-segalanya, maka takkan ada melalaikan perintah-Nya, maka takkan ada perpecahan, maka takkan ada pengkafiran sesame muslim, maka takkan ada ideology-ideologi palsu buah pikiran manusia, maka takkan ada cinta diatas cinta-Nya.

Tapi buktinya?? Banyak penyimpangan-penyimpangan, kebebasan dijadikan azas tapi toh tetap tidak bisa menyelesaikan masalah, malah tambah ruet. Semua tidak mau diatur, tapi malah sibuk buat aturan, bukankah aturan Tuhanmu sudah sempurna? Semua tidak mau kalah, tapi malah sibuk mencari dalil untuk saling mengalahkan, bukankah Dalil Tuhanmu sangat kuat? Semua mau mencari pembenaran sendiri demi menguntungkan hak pribadinya.

Mana buktinya jika Allah Tuhan kita? Aurat tak kunjung ditutup, pergaulan meraja lela, bebas-bebas yang tak berdasarkan aturan,, setelah kena batunya baru menyesal, untuk apa? Mengaku Allah penguasa aturan, tapi masih juga mencari aturan sendiri untuk membela diri,, sungguh kala mereka yang berpegang teguh pada ATURAN ALLAH bukanlah makhluk yang berpikiran sempit sobat,, mereka haqqul yakin dengan semua yang telah Allah gariskan, maka tak layak kita memperindah retorika kita demi membenarkan perlakuan yang tak sesuai syara’.

“ mereka yang memegang kebaikan bagaikan memegang bara api” benar apa yang Rasul sabdakan, yang benar hari ini harus merasakan bara itu,, dibalik kesungguhan itu banyak rintangan yang siap menentang, banyak ideology yang siap menjatuhkan prinsip. Esensi apa yang kau pertanyakan? Bukankah sudah jelas apa esensi agama ini? Agama ini agama tauhid. Maka jika tauhidmu benar maka benarlah agamamu,, bukankah Rasul dan para sahabat telah memberikan contoh nyata dalam bertauhid? Maka kepiwaiaianmu dalam mencari esensi lain itu akan menjadi senjata mematikan bagimu kelak. Maka maha benar Allah yang mengutus Muhammad sebagai pemberi peringatan dan pemberi kabar berita bagi yang beriman..

“ berislamlah secara kaffah” jangan setengah-setengah. Mengucapnya mudah, karena memang lidah tak bertulang, tapi berat tanggung jawabnya. Jauhilah bagimu berdebat karena Rasul tidak mengindahkan masalah debat, meskipun kita dalam keadaan benar. “Seandainya kalian tahu apa yang aku ketahui maka kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis”.

Wallahu a’lam bishowab.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Desember 25, 2010 in Uncategorized

 

Katakan oleh mu…

TIDAK… Bagi perbuatan yang dapat menyia-nyiakan umurmu, seperti senang membalas dendam dan berselisih dengan perkara yang tidak ada kebaikan di dalamnya.

TIDAK… Bagi sikap yang lebih mengutamakan harta benda dan mengumpulkannya, ketimbang sikap arif untuk menjaga kesehatanmu, kebahagiaanmu, dan waktu istirahatmu.

TIDAK… Bagi perangai yang suka memata-matai kesalahan orang lain, menggunjing aib orang lain (ghibah) dan melupakan aib diri sendiri.

TIDAK… Bagi perangai yang suka mabuk kepayang dengan kesenangan hawa nafsu, menuruti segala tuntutan dan keinginannya.

TIDAK… Bagi sikap yang selalu menghabiskan waktu bersama para pengangguran, dan memboroskan waktu berjam-jam untuk bergurau dan bermain.

TIDAK… Bagi perilaku acuh terhadap kebersihan dan keharuman tubuh, serta masa bodoh dengan tempat tinggal dan ketertiban lingkungan.

TIDAK… Bagi setiap minuman yang haram, rokok, dan segala sesuatu yang kotor dan najis.

TIDAK… Bagi sikap yang selalu mengingat-ingat kembali musibah yang telah lalu, bencana yang telah terjadi, atau kesalahan yang terlanjur dilakukan.

TIDAK… Bagi perilaku yang melupakan akhirat, yang lalai membekali dirinya dengan amal saleh untuk menyongsongnya, dan yang lengah dari peringatan tentang kedahsyatannya.

TIDAK… Bagi perangai membuang-buang harta benda dalam perkara-perkara yang haram, berlaku boros dalam perkara-perkara yang mubah, dan perilaku yang dapat memangkas perkara-perkara ketaatan.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Desember 22, 2010 in Uncategorized

 

Dua Bidadari

Saat ku ajukan bahwa aku sudah siap untuk menggenapkan agamaku tak ada kesan terkejut di wajah ummiku, tapi abangku merasa tak percaya, karena secara umur seharusnya aku belum menammatkan sekolah menengah atas. Namaku fathan, lengkapnya Muhammad Maulana fathan, mempunyai saudara kembar bernama Muhammad fatih yang ku panggil abang, karena dia duluan keluar beberapa menit sebelumku. Meski kembar, kami tidaklah mirip karena kami bukan kembar identik. Kemudian kami mempunyai adik kecil yang cantik secantik ummi bernama Fatiya Alfikhoiro.

Bang fatih, begitu aku menyebutnya baru saja naik ke kelas 2 SMA, aku dari dulu memang memilih untuk tidak sekolah karena bagiku sekolah itu adalah ummiku, ummiku sudah mengajariku semua ilmu dari sejak kecil lagi,, Alhamdulillah aku dan bang fatih sudah Al-qur’an sejak umur  7 tahun. Ummi sungguh wanita yang luar biasa dalam mendidik kami. Begitu juga Abi yang sungguh-sungguh memberikan kasih sayangnya pada kami bertiga.

Keseharianku selalu berada dalam mihrabku,, begitulah aku menyebut sebuah ruangan di dalam rumah yang selalu kami gunakan untuk sholat, mengaji dan belajar. Ummi selalu sabar dalam mengajarkan aku semua ilmu, hasilnya aku tak pernah kalah sedikitpun dari bang fatih yang selalu menjadi juara umum di sekolahnya. Ummi adalah bidadariku, ditengah kesibukannya sebagai guru, beliau juga mampu menjadi guru teladan bagi anak-anaknya, guru cinta bagi suaminya, guru kehidupanku. Mengajarkan kebaikan dan kesholehan, meneladani cinta dan kasih sayang. Subhanallah, Maha suci Allah yang menciptakan makhluk sebagus ummi, betapa beruntungnya Abi yang mendapat teman sejati seperti ummi. Ummi bidadari surga yang turun di tengah cinta rumahku. Kecantikan rupa fisiknya menyamankan pandangan, kecantikan akhlaqnya menghadirkan cinta di setiap sisi ruang biduk kehidupan kami.

Sejenak ku berpikir apakah suatu waktu nanti ku bisa mendapatkan bidadari cintaku seperti ummi? Mungkinkah aku seberuntung Abiku? Mempunyai isteri cantik dan sholeha dengan anak-anak yang cerdas dan sholeh? Wallahu a’lam. Ku serahkan semuanya pada Allah, bukankah sesuai prasangka hamba-Nya?

Nah, saat itu tiba bagi ku membuat keputusan untuk memetik setangkai bunga di dunia ini yang insya Allah menjadi pelengkap agamaku. Bukan karena aku telah menemui seorang bidadari seperti ummi. Bagaimana aku bisa kenal dengan banyak bunga? Padahal aku tidak pernah keluar dari mihrabku kecuali untuk sholat jamaah ke mesjid bersama Abi dan bang fatih.  Tapi keputusan ini aku sadari karena aku benar-benar siap untuk menggenapkan dien-ku.

Abi dan ummi menanggapi dengan tenang, namun pada saat ku memberitahu bahwa bunga yang akan ku petik adalah puteri penjaga mesjid dekat kompleks perumahan kami, mereka langsung kaget. Kenapa mereka terkejut? Apakah aku salah? Apakah wanita itu dipandang kurang pantas buat ku?

“bukan sayang, apa fathan sudah pikir matang-matang?” Tanya ummi lembut

“ sudah mi, fathan siap untuk menikahinya,,,

“ fathan, Abi carikan yang lain ya buat fathan? Kenapa kamu bisa memilih dia nak, seusia kamu biasanya memilih yang terbaik untuk dijadikan teman hidup “

“Abi, insya Allah dia yang terbaik,,,”

“ Tapii…” Abi memotong pembicaraanku

“ mungkin fathan tak seberuntung abi yang mendapatkan ummi, cantik secara fisik, dan cantik secara ruhiyah,, tapi tetap hanya dia yang fathan mau bi, ya memang dia tidak cantik, juga cacat, tapi keteduhan sikap, kesabarannya, kelembutannya, keistiqomahannya telah membuatku jatuh hati” ujar ku sembari menangis. Semua hening, dengan lembut ummi mengusap punggungku dan akupun jatuh ke pelukannya. Ummi mengiyakan dan memberi keputusan penuh atas apa yang akan ku jalani.

Permasalahan kembali lagi kala semua keluarga bermusyawaroh, nenek, kakek juga kurang setuju.

“ Fathan, kamu gagah dan tampan cu, bukan susah mendapat yang jauh lebih baik dari dia, biar kakek yang carikan ya cu…”

Namun, apapun yang mereka ucapkan aku sudah pada keputusanku.

“ Fathan sudah siap apapun itu, meski kalian pandang remeh, tapi dia bidadari kedua setelah ummi, ummi adalah bidadari kehidupanku sedangkan calon istriku adalah bidadari cintaku, apalagi yang akan fathan cemaskan, niat fathan hanya menggenapkan dien ini, tidak ada wanita yang lebih baik yang fathan temui selain dia yang bernama Aisyah. Kesabarannya yang selalu menghadapi cemoohan orang telah memikatku, ketekunannya membantu ayahnya membersihkan mesjid sungguh luar biasa, meski cacat tapi akhlaqnya sempurna, banyak yang sempurna fisiknya tapi tidak bagus akhlaqnya.. biarlah dia tidak secantik ummi dari segi fisik, tapi akhlaqnya secantik akhlaq ummi, fathan sudah beruntung mempunyai ummi, dan akan lengkap jika menyuntingnya,, fathan yakin dialah kunci fathan menuju Jannah Allah, insya Allah. Semoga inilah yang Allah kehendaki dari fathan dengan menerima dia apa adanya, karena nikah adalah untuk ibadah menuju Allah, tidak untuk memuaskan hasrat duniawi….”

“ Ummi ridho nak,,, kita akan segera melamarnya untukmu…” ummi mencairkan kembali suasana yang agak tegang,,, kemudian yang lain juga merasa puas dengan semua keputusanku. Termasuk bang fatih dan dik fatiya. Mereka terharu dan memelukku…

 

*                             *                             *                                             *                             *

Nah, pelajaran apa yang dapat kita ambil dari kisah di atas? Masihkan ada pilih-pilah? Maka luruskan niat kembali,, bukankah Menikah untuk meraih cinta-Nya dan jannah-Nya? Kenapa kita tega memilih-milih makhluk ciptaan-Nya? Yakinlah apapun yang telah Allah condongkan hati kita padanya adalah jodoh yang telah Dia siapkan,, apakah ada tulang rusuk (jodoh) yang tertukar??

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Desember 22, 2010 in Uncategorized

 

Beginilah rasanya menjadi guru…

apa ya enaknya jadi guru? belumlg menghadapi beragam macam ulah para siswa,, uhh menyebalkan…
belum lg administrasi perangkat yg seabrek,,, padahal mnjadi guru itu pekerjaan mulia,, tp kagak nahan dg kebodohan sikap manusia akhir zaman ini yg tidak bs diajak kpd kebaikan…

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Desember 10, 2010 in Uncategorized

 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.